Warisan Termewah Untuk Anak Cucu

Warisan Termewah Untuk Anak Cucu

 

Akhir-akhir ini berseliweran berita ngeri-ngeri syedep buat para orang tua tentang dampak game online untuk anak. Sebenarnya bukan berita baru sih ya, karena sebelumnya pun sudah banyak video dan tulisan mengenai itu. Tapi berita yang menunjukkan sekian banyak data dan fakta itu semakin membuat kita; saya dan anda, pastinya jauh lebih resah. Berita itu kurang lebih begini bunyinya, “Sekian anak usia 5-15 tahun dirawat di Rumah Sakit Jiwa karena dampak game online”. Rasanya bikin merinding dan kening mengernyit, lho kok bisa? Zaman saya imut-imut dulu (lha emang pernah ya? 😜), tak pernah terdengar ada anak-anak seusia tersebut mengalami gangguan kejiwaan, depresi, atau apalah-apalah. Fitrah anak-anak adalah bermain, bermain yang membuat hati bahagia, feel free banget tanpa beban fikiran yang menguras hati, fikiran, tenaga, air mata, bahkan kalau boleh nawar, ingin sekali rasanya hamba kembali ke masa-masa itu yaa Rabb (wes wes, kebablasan jadi curcol, mak).

Hati jadi bertanya-tanya, sedahsyat apa pesona game online sehingga fenomena ini kini terjadi? Game online memang mengasyikan, “bikin nagih” dan penasaran di setiap levelnya, makin naik makin nagih, hingga bisa membuat penggunanya lupa waktu bahkan lupa dunia nyata, mereka seolah masuk ke dalam permainan tersebut, merasa butuh konsentrasi tinggi sampai dampak terekstrimnya adalah menganggap segala sesuatu di dunia nyata adalah gangguan baginya, mereka merasa bahwa suara-suara dan aktifitas di sekitarnya bisa membuat konsentrasinya pecah, lalu memporakporandakan level game yang sedang dimainkannya. Apalagi jika sampai aktifitasnya bermain game-nya dihentikan secara paksa dengan mengambil/merusak media bermainnya, reaksi mereka bisa sampai mengamuk seolah dunia sedang kiamat. Sengeri itu dampaknya. Ngeri-ngeri syedep nan syedih, sebegininya generasi masa kini, generasi anak dan cucu-cucu kita. Masih berani bilang game online sekedar hiburan? Apakah itu gambaran bermain yang bahagia?

Coba sekarang kita flashback dan putar kembali kenangan masa muda kita, bukan untuk kembali, hanya sedikit mengingat serpihan-serpihan senyum yang tertinggal di sana. Hiyaaa. Kala itu, dunia belum memperkenankan kita mengenal teknologi secanggih sekarang, tetapi tidak berarti kita tidak pernah bermain bukan? Masihkah ingat bagaimana ritme harian kita dulu? Sepulang sekolah (tentu setelah ganti baju, makan siang, sholat dzuhur) langsung menuju lapang atau lahan kosong tempat teman-teman lain berkumpul. Permainan yang dimainkan pun sangat beragam; loncat tinggi, galah, layangan, main kelereng, petak umpet, engklek, bon-bonan, gatrik, egrang, dan masih banyak lagi yang lainnya. Permainan-permainan yang mengasah secara lengkap kemampuan kita; ketangkasan, kreatifitas, motorik, logika, emosi, sosial. Ya, dari permainan-permainan tersebutlah kita belajar banyak hal, bagaimana menggunakan bahan-bahan yang tersedia dari alam (batu, pecahan genting, ranting, dll), menggambar area bermain dengan kapur, jika tidak ada kita gunakan pecahan genting, bagaimana kita berempati ketika ada teman terjatuh, bagaimana menghargai teman dengan dinamika menang-kalah, bagaimana bersatu-padu dengan teman satu tim bermain, dan tentunya hampir semua permainan tersebut menuntut kita untuk bergerak, berpeluh-lelah tetapi sehat, serta poin pentingnya adalah kita melakukan semuanya dengan riang gembira. Bermain dengan bahagia, bahagia yang hakiki, meresap ke hati, tertanam kenangannya hingga kini. Masih meragukannya? Besok, ajak anak-anak kita mencicipi permainan-permainan masa kecil kita, lalu amati raut wajah mereka, akan kita temukan binar bahagia yang tak terlihat ketika mereka memainkan game online dan sejenisnya. Trust me!

-Elshanka-

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

× Kirim Pesan